***
Masih sekitar pukul setengah tujuh pagi Kauzi keluar dari kamarnya yang berada dilantai dua, bergegas turun ke lantai satu dengan seragam SMA untuk menghampiri sarapan paginya di meja makan. Di dekat tangga ternyata sudah ada Fauzan yang mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga karena ia sudah melihat "bos"-nya berada di anak tangga ke-5.
Dengan roti tawar ditangannya Fauzan menyapa Kauzi, "Hallo bos Koji!!!"
Kauzi tidak membalas sapaan Fauzan, ia mengalihkan ke pembahasan lain. Kauzi melihat mulut Fauzan penuh dan juga Kauzi melihat ada dua lembar roti tawar di tangan Fauzan. "Makan apaan lo, Zan?"
"Roti. Emang lo nggak bisa liat?"
"Maksud gue, menu aneh apa lagi yang lo bikin?"
"Ooh sederhana aja.. Ini cuma roti tawar yang gue campur sama telor asin dan kismis, terus gue taburin susu bubuk deh."
"Konslet! Kenapa lo masih hidup ya?!" Kauzi seraya duduk di kursi meja makan.
"Lo mau coba juga?"
"Bisa mati konyol gue kalo makan menu aneh lo itu. Kan nggak lucu kalo gue nanti masuk koran gara-gara mati keracunan roti tawar isi telor asin yang dicampur sama kismis dan ditaburi susu bubuk buatan sahabatnya sendiri. Yang ada gue jadi bahan tertawaan orang banyak."
"Hahaha.. Tenang aja Ji. Kalau lo belum siap nyicipin menu-menu fantastik gue, gue maklumin kok. Ya semua itu emang perlu adaptasi kok."
"Gue saranin ya, lo tuh mendingan periksa ke tukang reparasi otak deh. Biar otak lo agak lurus dikit."
"Hahaha.. Gini-gini gue kan asisten pribadi yang sangat lo andalkan Ji. Jangan gitu doooongg!!"
Kauzi melahap sarapan paginya, "Hahahaha.. Ada laporan apa aja pagi ini?"
"Bibik bilang, mulai dari jam 6 pagi tadi telepon rumah mulai berdering sekitar tiga kali," Omongan Fauzan terhenti sebentar saat dia sedang sibuk mengunyah "sarapan fantastik" miliknya. "Terus tadi di handphone gue ada lima sms masuk. Semuanya gue bales."
Kauzi memang sengaja memberikan nomor telepon khusus kepada para "fans"-nya itu, dan Fauzan yang selalu memegang tanggung jawab penuh atas nomor telepon itu, artinya nomor telepon itu bukanlah nomor telepon Kauzi yang sebenarnya, tapi nomor telepon yang sengaja Kauzi beli khusus untuk para fans-nya. Karena kalau Kauzi tidak memberikan nomor teleponnya kepada para fans-nya itu, dia merasa tidak enak hati, tapi kalau ia memberikan nomor teleponnya yang asli, dia akan sangat merasa terganggu. Jadi ia mengambil jalan tengahnya saja; membeli nomor telepon baru dan yang memegang tanggung jawab penuh atas nomor itu adalah Fauzan.
Rumah Fauzan tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah Kauzi, bahkan terbilang sangat dekat. Rumah mereka bersebelahan. Kauzi adalah tetangga baru Fauzan yang berasal dari Bandung. Mereka mulai berteman sejak kelas 3 SMP sampai saat ini, jadi itulah alasannya mengapa Kauzi sangat percaya dengan Fauzan. Karena Fauzan memang seseorang yang selalu bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan orang lain kepadanya. Good boy.
***
07:00 WIB.
Kauzi dan Fauzan sampai di sekolah. Seperti biasanya, setiap pandangan gadis-gadis SMA di sekolah mereka pasti tertuju kepada the one and only: Kauzi Derino. Sebagian dari mereka ada yang menyapa, ada pula yang tersenyum manis, ada yang hanya berbisik kepada teman sepermainannya, mungkin karena malu untuk menyapa Kauzi. Bahkan ada pula yang memberikan Kauzi bekal makanan.
"Hai Kauzi." Kini berdiri di depannya--Kauzi-- seorang gadis yang memiliki postur tubuh cukup bagus dan berparas cantik. Kakak kelas Kauzi.
Kauzi hanya tersenyum. Begitu juga Fauzan.
"Ini..." Gadis yang bernama Ferly yang tidak lain adalah kakak kelas Kauzi memberikan sebuah bekal makanan kepada dirinya.
"Terimakasih." Kauzi tersnyum dan hendak meraih tempat makan itu, tetapi...
Brakkk...
Tempat makan itu terjatuh. Ada seseorang yang menabrak tubuh Kauzi, dan akhirnya tanpa sengaja Ferly menjatuhkan tempat makan miliknya sendiri. Entah siapa yang membuat malapetaka untuk Ferly. Fauzan yang rasa ingin tahunya tinggi, sedari tadi ia melihat punggung si pembawa malapetaka itu. Entahlah siapa gadis itu.
"Yaah...." Ferly nampak kecewa.
"Maaf kak, saya nggak sengaja. Biar saya yang ambil." Kauzi mengambil tempat makan itu dan membereskan isi yang ada di dalam tempat makan milik Ferly. Telur dadar, kesukaan Kauzi. Sayang sekali kalau harus terjatuh seperti itu.
"Biar aku ganti sama yang baru." Kata Ferly.
"Nggak usah kak, biar aku yang bawa." Kauzi merasa tidak enak hati.
"Nggak apa-apa. Aku nggak mau kamu makan bekal yang sudah terjatuh. Besok aku kasih gantinya, ya." Ferly tersenyum lantas pergi. "Sampai jumpa besok, Kauzi."
Fauzan menggeleng. "Hebat!"
"Kenapa?" Kauzi melanjutkan perjalanannya.
"Sampe kakak kelas aja hands-down sama lo. Gila lo emang!"
"Sebenernya gue nggak enak sama dia, Zan. Tapi ya gue bisa apa lagi coba?"
"Seorang badboy yang jadi idola setiap kaum hawa."
Kauzi hanya membalas kata-kata Fauzan dengan senyuman manis miliknya, lalu memasuki ruang kelasnya.
***
Langkahnya terlihat sangat terburu-buru. Nafasnya terengah-engah. Pikirannya kacau. Gawat! Mungkin ini akan menjadi hari tersialnya.
Hayfa memasuki ruang kelasnya dengan berlarian. Menghampiri Maura dengan tampang panik. Ini kiamat baginya!
"Mauraaaa!!!!!" Nada suaranya ia tinggikan, duduk dengan tidak santai. "Gue lupa ngerjain PR dari bu Deasy!" Mukanya pucat.
"Hah!? Wah bunuh diri lo!" Maura juga ikut panik.
"Aduuh gimana dong ini!? Sebentar lagi bel masuk bunyi! Lo tau kan dia orangnya on time banget! Aaaaaaaaaaaaaaaaaa gue mau mati ajaaaa!!!!"
"Hay, tenang dulu! Lo liat PR gue aja nih. Cepet kerjain sekarang! Sebelum bel bunyi!" Maura memberikan buku tulisnya kepada Hayfa. Dengan sangat tergesa-gesa Hayfa mengerjakan 15 soal bahasa Inggris dengan jawaban yang super duper panjang. 1 nomor soal saja jawabannya bisa 4-5 baris.
Kriiiing...
Bel sekolah berbunyi. Tanda jam pelajaran pertama dimulai. Ibu Deasy memasuki ruang kelas Hayfa. Celaka! Dia baru menyelesaikan 2 nomor soal. Bahkan tulisannya saja seperti ceker bebek. Sungguh ini adalah kiamat kecil bagi Hayfa. Bu Deasy itu terkenal sangat galak, tidak ada satupun siswa yang melanggar perintahnya, sama seperti Hayfa, biasanya dia tidak melanggar perintah bu Deasy, tetapi kali ini dia melanggarnya dan dia membuat kiamat kecil bagi dirinya sendiri.
"Selamat pagi." Bu Deasy memasuki ruang kelas dengan sangat tegasnya. "Saya ingin PR kalian terkumpul di meja saya dalam hitungan kesepuluh. "Satu..." Ibu Deasy mulai menghitung maju. "Dua..." Dan terus berhitung.
Hayfa belum juga menyelesaikan PR-nya, sungguh ia akan mati hari ini juga!
"Hay.. Hay.. Cepetan Haaaayyy!!!" Maura memburu-buru temannya itu.
"Enam..." Hampir dekat dengan hitungan kesepuluh, Hayfa belum juga menyelesaikan tugasnya. mana mungkin bisa.
"Delapan...."
"Hay! Hay!! Cepet!!!!" Maura panik.
"Sembilaaaan...."
"Hay!!!!" Maura mendesak Hayfa untuk segera mengumpulkan tugas mereka.
"Sepuluh." Tepat. Hayfa mengumpulkan tugasnya dalam hitungan kesepuluh.
Namun, "Hayfaaaa!!!!!" Suara khas itu memanggil Hayfa dengan nada yang sangat amat tinggi. Matilah kau sekarang, Hayfa!
"Mengapa kamu baru menyelesaikan 2 setengah soal dari 15 soal!?"
"Eeengg... Anu buu... Emmm.. Ituuu..." Hayfa tidak bisa menjawab.
"Keluar kamu dari kelas saya!"
"Maaf bu, ta-tapi..."
"Keluaaaarrr!!!! Jangan masuk kelas saya sampai jam pelajaran saya selesai!"
"Tapikan jam pelajaran ibu selesai sampai bel istirahat berbunyi, bu."
"Saya tidak peduli! Keluar kamu!"
"Ba-baik bu.." Hayfa keluar kelasnya dengan wajah yang sangat pucat dan lemas. Baru saja ia keluar kelasnya dan hendak menutup pintu kelasnya, ia sudah dapat masalah lain: hampir bertabrakan dengan dua orang cowok. Wajahnya yang semula tertunduk, karena kaget, ia mengangkat kepalanya dan melihat cowok itu dengan wajah suram--karena kesal--. Cowok itu berlalu begitu saja, tanpa ada kata maaf. Tak masalah, mungkin itu memang takdirnya hari ini. Hayfa menutup pintu kelas dan berdiri di luar ruangan kelasnya.
3menit Hayfa lalui dengan tampang yang masih suram. Menggerutu dalam hati. Menyesali mengapa dia harus lupa mengerjakan PR-nya dan malah lebih memilih untuk tidur lebih awal. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Itulah yang ia katakan selama 3menit kepada dirinya sendiri.
Oh ibu, ternyata malapetaka itu tidak cukup sampai disitu. Perutnya mulai tidak bisa diajak kompromi. Sepertinya gara-gara terlalu panik, jadi perut Hayfa terasa mulas dan, "Gue butuh toilet sekaraaaaangggg!!!!!" Hayfa berlari ke kamar mandi khusus siswa perempuan di sekolahnya, saat sampai disana ternyata toiletnya penuh. Gadis-gadis SMA itu berlama-lama di kamar mandi mungkin hanya untuk sekedar mengobrol, mengaca, cuci tangan, atau hal lainnya yang bisa mengulur waktu mereka sehingga tidak mengikuti jam pelajaran di kelas masing-masing.
Hayfa tidak peduli dengan gadis-gadis SMA itu. Percuma saja kalau dia memaksakan masuk ke dalam toilet perempuan itu pasti ia akan mendapat seribu cacian. Cukup. Ia tidak ingin memperburuk harinya. Akhirnya ia mengambil jalan tengah. Berlari ke kamar mandi laki-laki. Untunglah kamar mandi itu cukup sepi. Hayfa langsung masuk ke dalam toilet itu, tidak semudah yang ia pikirkan, di dalm ada dua laki-laki yang sedang mengobrol di depan wastafel.
"Loh.. Weh lo mau ngapain masuk kamar mandi cowok!? Lo bisa baca nggak sih!?" Salah satu diantara dua cowok tersebut kaget melihat keberadaan Hayfa di dalam toilet.
"Please.. Gue numpang ya di kamar mandi ini, kamar mandi kaum gue penuh banget. Aduh gue mohon banget ya sama kalian... Perut gue udah sakit banget nih. Gue nggak tahan. Please jagain pintu kamar mandinya ya. Pastiin jangan ada orang yang masuk kamar mandi sini." Lalu Hayfa masuk toilet.
"Tuh cewek enteng banget ya omongannya. Dipikir kita penjaga toilet kali!" Nada bicara Fauzan agak tinggi.
"Yaudah kita tungguin aja, Zan. Amal. Lagi pula kasian kan itu cewek." Kata Kauzi santai.
"Lo mah nggak bisa liat cewek dikit pasti bawaannya langsung kasian sih Ji. Pantesan aja cewek-cewek pada klepek-klepek sama lo."
"Yeee... Bukannya gitu, tapi kan kita sebagai cowok emang harusnya ngelindungin cewek."
"Tapi kayaknya muka cewek itu kayak pernah gue liat deh."
"Ngayal kali lo!"
"Beneran..." Kauzi hanya diam. "Dia kan yang tadi hampir nabrak lo di depan kelas itu, Ji!"
"Masa?"
"Bener! Ingetan gue mah nggak pernah salah." Fauzan diam sebentar, mencoba mengingat-ingat lagi. "Dan dia yang tadi pagi nabrak lo! Yang bikin tempat makan kak Ferly jatoh, Ji!"
"Ohh diaa... Kok dia nggak ngenalin gue ya?"
"Mungkin dia anak baru."
Hampir 3 menit kemudian Hayfa keluar dari toilet. Hayfa kaget karena ia melihat dua cowok yang tidak dikenalinya itu ternyata masih menungguinya. "Thanks. Gue duluan ya." Cuma itu yang dikatakan Hayfa. Lantas pergi tanpa berdosa. Memang Hayfa ini sungguh perempuan yang amat cuek. Datang tanpa merasa berdosa, pergi pun juga masih merasa tak punya dosa. Padahal dua cowok asing itu sudah rela menunggunya hampir 3 menit untuk menjaga dirinya, tapi apa yang Hayfa katakan? Cuma empat kata singkat. Itu cukup bagi Hayfa tapi tidak bagi Kauzi dan Fauzan.
***
"Salah lo juga sih nggak ngerjain tugas dari bu Deasy. Udah tau dia itu galaknya setengah mati." Maura dan Hayfa berjalan menuju kantin.
"Gue ngantuk banget, Ra." Hayfa jalan dengan langkah yang masih sangat lemas.
"Emang abis ngapain sih lo?"
"Abis youtubing."
"Pasti nonton stand up comedy."
"Terus gue mau nonton apa lagi? Gue kan bukan elo yang kalau buka youtube pasti langsung nonton drama korea."
Maura langsung mengalihkan pembicaraan. "Lo mau makan apa? Biar gue yang pesenin deh."
"Nggak usah. Gue aja yang pesen sendiri. Lagi pula gue cuma mau makan puding cokelat doang kok, Ra. Mood-booster gue soalnya."
"Yaudah gue cari tempat duduk dulu ya."
Hayfa dan Maura berpencar. Hayfa memburu puding cokelat favoritnya, Maura yang membawa bekal sendiri mencari tempat duduk untuk mereka berdua.
Setelah mendapatkan puding cokelat favoritnya, Hayfa berjalan mencari Maura. Dia tidak mempedulikan sekitarnya, matanya terus mencari Maura dengan dua puding cokelat lengkap dengan fla di kedua tangannya.
Nasibnya sungguh malang hari ini. Ia bertabrakan lagi dengan seseorang yang ia tak kenali. Puding yang berada di tangan sebelah kirinya jatuh. Tak apalah, ia malas mempermasalahkannya. Ia tidak mempedulikan seseorang yang menabrak bahu kirinya, matanya terus mencari Maura.
Dapat! Ia menghampiri Maura dan berkeluh kesah lagi, "Ra, it's my bad day ever!"
"Kenapa sih, Hay? Kan lo udah dapet mood-booster lo tuh, si puding cokelat."
"Tapi tadi di tengah perjalanan gue kehilangan satu mood-booster gue, Ra! Ada yang nabrak gue tadi!"
"Terus lo diem aja?"
"Ya iyalah... Habis gue mau gimana lagi?"
"Minta pertanggung jawaban dong!"
"Ah males gue, entar yang ada gue tambah bete. Mending gue diemin aja deh."
"Yaudah sekarang jangan bete lagi dong yah. Nggak apa walau cuma ada satu puding coklat, kan yang penting ada mood-booster."
Hayfa terdiam dan melahap puding cokelatnya yang tersisa satu.
"Oh iya Hay, tadi bu Deasy nyuruh lo ke ruangannya sehabis pulang sekolah."
"Ngapain?"
"Gue nggak tau. Katanya sih ada hal yang mau dia omongin gitu."
"Paling juga gue dikasih ceramah sama dia. Huuh.. Lo temenin gue, yaaa..?"
"Yah nggak bisa, Hay. Gue ada janji sama nyokap gue mau nemenin dia ke mall buat beli kado keponakan barunya."
"Berarti gue sendirian dong entar?"
"Maaf ya Hay... Soalnya nanti nyokap gue sendiri yang jemput sehabis pulang sekolah. Jadi gue nggak bisa nemenin lo ke ruangannya bu Deasy."
"Yaudah deh nggak apa. Salam aja ya buat nyokap lo."
"Berarti lo nanti naik bus sendiri dong?"
"Ya mau gimana lagi?"
"Maaf Hayfa.. Gue bukan bermaksud bikin hari lo makin suram." Maura merangkul Hayfa.
"Iya nggak apa kok, Ra. Santai aja sama gue."
***
Sepulang sekolah Hayfa benar-benar ke ruangan bu Deasy sendirian. Dan benar tebakan Hayfa, ia mendapatkan ceramah panjang lebar dari ibu Deasy. Setelah mendengarkan ceramah yang panjang lebar itu Hayfa keluar dari ruangan ibu Deasy. Sepi. Semua murid di sekolah itu sudah menuju rumahnya masing-masing, bahkan mungkin ada yang ke tempat tongkrongan dulu.
Benar-benar baru saja ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ibu Deasy, tangan kanannya ada yang menarik. Ia pikir itu penculik, tapi mana mungkin ada penculik di dalam sekolah. Pikiran itu segara ia hilangkan. Kaget, ternyata yang menarik tangannya bukanlah seorang penculik, maksudnya beruntunglah ia tidak benar-benar ditarik oleh seorang penculik. Yang menarik tangannya masih berseragam SMA, wajahnya tidak asing. Sepertinya pernah ia temui baru-baru saja.
"Ada apa, ya?" Tanya Hayfa sopan.
"Tadi gue ke kelas lo, tapi kata temen lo, lo ada di ruangan ibu Deasy, yaudah akhirnya gue kesini deh."
"Ada urusan apa?"
Cowok itu melepaskan genggamannya dari tangan Hayfa. "Gue Kauzi. Kauzi Derino." Cowok itu--Kauzi-- menjulurkan tangannya bermaksud untuk mengajak berkenalan.
Hayfa tidak membalas maksud baik dari Kauzi. Hayfa hanya melihat tingkah Kauzi yang aneh. Kauzi menggaruk kepala bagian belakangnya yang sebenarnya tidak gatal. Ia malu.
"Hayfa." Akhirnya Hayfa bersuara.
Syukurlah ia tidak sedingin yang Kauzi bayangkan. Dan syukurlah Kauzi tidak terlalu malu.
"Lo-lo nggak kenal gue?" Harusnya semua gadis di sekolah itu mengenal Kauzi. Termasuk Maura yang tadi dihampiri oleh Kauzi, tak terkira senangnya. Sungguh rasanya ia ingin menyombongkan ini kepada semua gadis di sekolahnya. Karena Kauzi memang belum pernah menghampiri gadis mana pun di sekolahnya.
Hayfa menggeleng. Oh ibu, gadis macam apa yang ia hadapi saat ini? Cuek sekali. Mana mungkin ia tidak mengenal seorang "Kauzi".
"Gue tadi yang jagain lo di toilet." Untunglah hari ini mereka bertemu sampai empat kali, jadi ada alasan bagi Kauzi untuk mengajak cewek cuek itu berkenalan. "Gue juga yang tadi pagi lo tabrak. Terus yang di depan kelas lo itu, lo juga hampir nabrak gue. Dan yang di kantin... Sori ya perihal itu.. Sebenernya gue yang jatohin puding cokelat lo. Maaf ya.. Niatnya sih gue mau ganti, tapi lo malah pergi gitu aja."
"Oooh.. Iya nggak apa. Emm... Gue duluan ya."
"Bareng sama gue aja."
Hayfa terdiam. "Itung-itung permintaan maaf, hehe." Kauzi salah tingkah.
"Nggak usah, gue naik metro mini aja." Hayfa pergi meninggalkan Kauzi begitu saja.
Langsung dengan sigapnya Kauzi mengambil handphone dari dalam sakunya, menghubungi Fauzan, "Zan! Lo ke sekolah sekarang juga! Ambil motor gue di sekolah! Kuncinya ada di rumah gue ya. Pokoknya lo nggak usah banyak tanya!" Kauzi memutuskan sambungan teleponnya dengan Fauzan, dengan cepat Kauzi mengejar Hayfa. Dia terlambat. Hayfa sudah menaiki metro mini. Nekat, Kauzi mengejar metro mini tersebut dan langsung naik. Di dalam metro mini ia tak mendapati sosok Hayfa. Ia melihat keluar jendela metro mini. Sial! Itu Hayfa! Ternyata ia salah lihat! Hayfa masih menunggu metro mini selanjutnya. Langsung saja Kauzi turun dari metro mini itu, menghampiri Hayfa dengan nafas yang tersengal-sengal.
Hayfa menyadari keberadaan Kauzi. "Loh, kok disini? Bukannya bawa kendaraan sendiri?"
"Eeengg.. Anuu.. Bannya kempes. Jadi terpaksa ditinggal deh. Hehe." Lagi, Kauzi salah tingkah.
Hayfa membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk. Metro mini itu datang, Hayfa naik dari pintu depan, kemudian Kauzi naik dari sisi pintu lainnya.
Kauzi memandangi Hayfa dari belakang sepanjang perjalanan. Walaupun berdiri, ia merasa tidak terlalu kelelahan, malah amat menyenangkan baginya. Entah mengapa tiba-tiba Kauzi menjadi seaneh ini.
17 menit kemudian Hayfa sampai pada tujuannya. Berhenti, keluar dari metro mini. Lalu Kauzi pun ikut berhenti, mengikuti Hayfa dari belakang. Mereka harus berjalan kaki lagi untuk menuju rumah Hayfa. Di tengah perjalanan, Hayfa merasa ada yang ganjil, ia merasa diikuti. Hayfa hentikan langkahnya, menengok ke belakang. Bodoh! Kauzi belum sempat mengumpat tetapi Hayfa sudah melihat Kauzi, apa yang hendak dikatakan Kauzi dihadapan Hayfa?
Kepalang tanggung, akhirnya Kauzi pun menghampiri Hayfa, mensejajarkan langkah. Kali ini Hayfa yang membuka pembicaraan. "Rumah lo disekitar sini juga?" Hayfa bukan tipe cewek yang ke-geeran.
Kauzi diam sebentar. Berpikir. Tak baik kalau ia berbohong, nanti kalau ketahuan bisa berabe urusannya. "Enggak." Maka jawaban jujur itulah yang keluar dari mulut Kauzi. Jawaban jujur itu membawa Kauzi ke dalam seribu pertanyaan Hayfa.
"Terus lo ngapain turun disini? Kenapa lo jalan di belakang gue tadi?"
"Gue... Engg... Gu-gue cuma mau mastiin lo pulang dengan selamat kok. Hehe."
Hayfa terdiam bingung.
"Gue takut lo kenapa-kenapa, jadi sebagai cowok, gue harus lindungin lo, hehe."
"Lagi pula di komplek sepi kayak gini siapa yang akan denger, Fa?"
"Lo mau ngapa-ngapain gue ya! Ngaku lo!" Kali ini Hayfa benar-benar ketakutan.
"Loh loh loh... Enggak.. Sumpah gue nggak bermaksud gitu, Fa. Maksud gue baik, kok. Gue cuma mau nganterin lo pulang dan mastiin lo selamat. Udah itu aja."
"Tapikan kita nggak saling kenal!"
"Loh bukannya tadi kita udah kenalan di sekolah ya?"
"Itu kan baru kenal!"
"Tenang Fa... Gue nggak ngapa-ngapain elo, kok. Serius deh."
"Terus kenapa lo mau nganterin gue sampai rumah dan mastiin gue selamat sampai rumah!?"
"Ya karna..." Kauzi tidak bisa menjawabnya. Benar juga, untuk apa Kauzi melakukan itu semua? Sampai rela meninggalkan motornya di sekolah.
Hayfa lari pergi meninggalkan Kauzi yang sedang berpikir. Hayfa benar-benar ketakutan. Tidak peduli meski tampang Kauzi yang tampan, Hayfa tetap saja takut kalau-kalau Kauzi akan melakukan hal-hal negatif terhadapnya.
"Bener juga ya.. Ngapain gue mastiin dia selamat sampai rumah?" Kali ini Kauzi menjadi orang yang ling lung, seperti habis dihipnotis saja. Tak berapa lama kemudian ia menghubungi Fauzan untuk menjemputnya di tempat ia berada sekarang.
Walau sudah sampai di rumah pun, Kauzi tetap memikirkan kelakuannya tadi; mengapa ia mengikuti gadis itu sampai rumah? mengapa ia harus memastikan bahwa gadis itu selamat sampai rumah? dan mengapa ia rela melakukan hal gila seperti memberhentikan metro mini dengan sembarangan dan kemudian loncat keluar lagi karena tahu bahwa itu bukan metro mini sang gadis cuek itu?
Mengapa? Mengapa? Mengapa?
